Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 November 2015

Menikah muda menghambat masa depan

Menikah muda sangat toidak baik.karena Menikah muda menghambat masa depan.Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise meminta para orangtua untuk tidak membiarkan anak perempuan menikah muda di usia anak atau di bawah 18 tahun.

Yohana menegaskan, anak-anak seharusnya menamatkan pendidikannya terlebih dahulu agar bisa mendapat masa depan yang lebih baik.
“Jangan biarkan anak-anak menikah di usia muda. Sudah saatnya anak-anak harus bersekolah,” kata Yohana dalam Festival Kabupaten/Kota Layak Anak di Plaza Tenggara Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (7/11/2015).
Yohana menjelaskan, jika menikah di terlalu muda, anak akan cenderung tidak mau lagi melanjutkan sekolah. Anak sulit mendapat kesempatan bekerja yang lebih baik. Keuangan keluarga pun akan bermasalah
“Nikah usia muda sangat membatasi ruang gerak anak. Masa depan mereka enggak berjalan mulus,” lanjut Yohana.
Berdasarkan data, sebanyak 11,3 persen remaja perempuan telah menikah di usia 10-15 tahun dan 32 persen menikah di usia 16-18 tahun. Dari 43 persen remaja di bawah usia 18 ini sudah hamil saat menikah atau hamil setelah satu tahun menikah.

Pernikahan usia dini terkadang juga didahului kasus kehamilan tindak diinginkan. Untuk itu, pendidikan seksual di sekolah atau kepada para anak atau remaja sangat penting.
Masalah ini sebenarnya telah menjadi perhatian banyak pihak. Sayangnya judicial review Undang-undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 untuk menaikkan usia minimum menikah perempuan jadi 18 tahu ditolak oleh Mahkamah Konstitusi.

Dalam UU tersebut, disebutkan usia legal minimum untuk menikah bagi perempuan adalah 16 tahun, namn dengan persetujuan orangtua. Batas usia 16 tahun dinilai mashi terlalu muda.
Pernikahan usia anak berdampak buruk bagi kesehatan. Pernikahan di usia terlalu muda  dapat menyebabkan angka kematian ibu dan kematian bayi baru lahir. Selain itu,  menikah terlalu muda tentunya merengut masa kanak-kanak, menghambat kesempatan anak untuk sekolah, hingga dampak ekonomi bagi pembangunan Indonesia.

dampak anak yang dibentak

Siapa dari Anda yang pernah memarahi anak dengan cara membentak-bentak atau berteriak? Tahukah bahwa cara itu justru berdampak buruk pada perkembangan otak anak.
Dokter ahli ilmu otak dari Neuroscience Indonesia, Amir Zuhdi menjelaskan, ketika orangtua membentak, anak akan merasa ketakutan. Ketika muncul rasa takut, maka produksi hormon kortisol di otak meningkat pada saat membentak.
“Otak itu bekerja bukan hanya secara struktural, tapi ada listriknya, ada hormonalnya. Ketika anak belajar neuronnya menyambung, berdekatan, antar neuron semakin lama semakin kuat, sistem hormonal juga bekerja,” terang Amir saat ditemui seusai Festival Kabupaten/Kota Layak Anak di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (7/11/2015).
Nah, pada anak-anak, tinginya hormon kortisol itu akan memutuskan sambungan neuron atau sel-sel di otak. Selain itu, akan terjadi percepatan kematian neuron atau apoptosis. Lalu apa akibatnya jika neuron terganggu?

Menurut Amir, banyak hal yang bisa terjadi, seperti proses berpikir anak menjadi terganggu, sulit mengambil keputusan, anak tidak bisa menerima informasi dengan baik, tidak bisa membuat perencanaan, hingga akhirnya tidak memiliki kepercayaan diri.
“Neuron ini, kan isinya file-file. Kalau dalam jumlah banyak (kematian neuron) dia jadi lelet,” kata Amir.
Amir menjelaskan, bagian otak anak yang pertama kali tumbuh adalah bagian otak yang berkaitan dengan emosi. Dalam bagian itu, paling besar adalah wilayah emosi takut. Itulah mengapa saat anak-anak, akan mudah merasa takut.

Semakin sering dibentak dengan keras dan membuat anak takut, maka semakin tinggi pula kerusakan pada neuron. Menurut Amir, orangtua juga harus bisa mengelola emosi. Ketika anak berbuat salah, katakan salah dengan memberi pengertian tanpa membentak-bentak.
 

Blogger news

Blogroll

About